Lentera di Salah Satu Sudut Kota
Halo semuanya, perkenalkan saya Ibrahim salah satu penyiar radio swasta dalam negeri. Saat ini tinggal di Jakarta dan sudah banyak kota yang telah disinggahi. Sedikit cerita ada salah satu kota yang selalu ada dalam hati dan selalu teringat akan segala ceritanya, yaitu .......
Semua bermula ketika saya masih di bangku sekolah menengah atas, tepatnya kelas 12 semester 1. Saat itu salah satu guru memberi tugas kami untuk menuliskan cita-cita dan universitas impian. Saya masih ingat betul, saya tulis dengan semangat 3 nama universitas impian. Ternyata dari ketiga universitas tersebut semuanya ada diluar negeri, khususnya ada di negeri sakura dan negeri yang tersohor dengan patung singa yang mengeluarkan air dari mulutnya. Wow semuanya luar negeri? are you serious?
Iya, kala itu semangat membara untuk menimba ilmu keluar negeri semakin memuncak ditambah dengan teman-teman seangkatan yang mempunyai mimpi yang sama. Persiapan demi persiapan sudah kami lakukan. Beberapa dokumen yang diperlukan sudah kami kirimkan ke universitas tujuan. Hingga waktunya meminta restu orang tua tiba untuk mengikuti tes seleksi masuk universitas yang dituju. Saya sempatkan waktu untuk pulang ke rumah meminta restu orang tua. Di dalam sanubari hati, saya yakin mereka akan mendukung dan menyemangati langkah besar yang akan saya ambil.
Setibanya di rumah, secangkir teh hangat menyambut. Saya menikmatinya sambil bersantai di teras rumah dengan memperhatikan lalu lalang kendaraan. Teh manis hangatpun habis tak tersisa, saya bergegas masuk dan keluarga sudah menunggu di ruang tengah. Mereka sedang menonton sepak bola liga Djarum kala itu. Iya, mereka pecinta sepak bola. Meskipun tidak fanatik dengan klub tertentu. Setelahnya celetukan kakak memecah keheningan sore yang begitu hangat. Dia bertanya "bagaimana persiapanmu? jadi keluar negerinya?". Dengan semangat saya balas "Jadi dong, minggu depan akan tes".
Setelahnya TV dimatikan dan kami mulai berbincang dari hati ke hati. Sekitar 30 menit orang tua menyampaikan uneg-unegnya selama ini mengenai rencana saya keluar negeri. Deg, saya kaget. Saya sontak lemas mendengar penjelasan mereka. Saya tidak menyanggah satu pun kalimat mereka dan saya juga tidak menyampaikan kalimat pembelaan untuk mimpi yang sudah lama saya inginkan. Semalaman merenung dan memikirkan semua yang mereka sampaikan. Hingga esok hari tiba.
Di pagi hari setelah sholat subuh, ayah mengajak keliling desa menggunakan motor kesayangannya. Sepanjang perjalanan ayah mencoba menenangkan dan mencoba berada di posisi saya saat itu. Saya pun memahami, maksud semua orang tua pasti baik untuk anaknya. Tapi saya perlu waktu. Perlu waktu sendiri untuk menerima kenyataan bahwa orang tua tidak setuju akan rencana yang sudah lama saya mimpikan.
Hingga akhirnya saya kembali ke sekolah dan memutuskan tidak mengikuti tes. Dalam hati mencoba menenangkan diri sendiri, pasti ada hikmah di setiap kejadian ini. Tapi namanya juga masih remaja, masih belum bisa menerima keputusan ini dengan legowo. Sempat berpikir, jika tidak keluar negeri, maka harus kemana?
--TBC--
kisah nyata kan ini mas :)
BalasHapus