Lentera di Salah Satu Sudut Kota - 2

 ....

Ada rasa tidak terima? Tentu!

Terus bagaimana? Membiarkan perasaan tidak nyaman itu tetap singgah? "Let it flow, life must go on" pikirku kala itu.

Hingga akhirnya sampailah di pembukaan semester 2. Hari Sabtu, 11 Januari 2014 ada sesi sharing dengan alumni yang lebih dulu mencicipi kehidupan perkuliahan. Mereka datang dengan warna jaket almamater kebanggaan mereka. Sesi sharing kala itu dibagi berdasarkan kelompok jurusan. Ada kedokteran, teknik, mipa, manajemen, soshum, dan lain sebagainya. Saat itu aku memilih kelas teknik. Masuklah aku di aula bersama teman-teman yang lain.

Dari sekian banyak representasi kampus yang disampaikan, ada satu kota yang membuatku penasaran. Banyak yang bilang "Tuhan menciptakannya ketika Tuhan sedang tersenyum". Melihat presentasi kampusnya, sejarahnya, dan sekilas tatanan kota yang unik membuatku semakin penasaran. Sehingga tebersit dalam benak "sepertinya kota ini yang selama ini kucari".

Empat bulan berlalu aku memutuskan untuk pergi ke kota Bandung. Ingin merasakan suasana kota yang mungkin akan menjadi tempat tinggalku selama empat tahun mendatang. Dan ternyata, tahukah kalian? Bandung lebih indah dari anganku dan kampusku lebih istimewa dari pikirku. Unik? Tentu. Bersejarah? Tak perlu ditanya, Bandung lautan api, presiden Soekarno menjadi jawaban tanpa perlu dijabarkan. Akhirnya, hatiku bulat untuk memilih kuliah di kota ini.

Hingga akhirnya sampailah di pengumuman penerimaan mahasiswa baru jalur undangan. Perasaanku penasaran dan penuh harap bisa diterima lebih awal. Waktu aku membuka web pengumumannya harapan yang muncul adalah warna hijau ternyata yang muncul adalah warna merah. Iya, aku ditolak kala itu. Sakit juga ya ternyata menerima penolakan. #ups

Dalam pikirku kala itu, harapan yang besar juga diperlukan usaha yang besar. Masih ada 1 bulan waktu persiapan menuju tes masuk. Keluarga mendukung, teman mendukung, lingkungan mendukung dan saat itu aku merasa ini yang dinamakan mestakung "semesta mendukung". Hingga singkat cerita Ibrahim bisa melewati tes dengan baik dan diterima di kampus impiannya. Disinilah petualangan baru dimulai.

Perasaan kagum mulai timbul, lampu kota area Dago, jalanan Braga, kawasan Asia Afrika, dan banyak hal yang mungkin jika ditulis sudah 350 kata sendiri.

Selama Ibrahim di Bandung sudah belajar banyak hal. Bukan hanya sebagai tempat kuliah, bukan hanya sekedar IPK, lebih dari itu secara tidak langsung Bandung yang memperkenalkanku dengan Tuhanku lebih dekat. Memperkenalkan dengan ciptaan alam dan manusia sebagai perantara jalan mengenalNya. Salah satu hal yang tidak bisa diukur dengan apapun. Terimakasih Bandung sudah memberikan pencerahan jalan yang selama ini aku cari, seberkas lentera di sudut kota Bandung.

Komentar